Tulisan
di bawah ini berasal dari sub tulisan Abdul Kahar Muzakir yang berjudul Rencana Perguruan Tinggi Wanita yakni “Pokok-Pokok
Buah Pikiran”. Tulisan ini merupakan salah-satu bagian dari buku Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah dari Masa
ke Masa diterbitkan oleh Dua Dimensi tahun 1985 di Yogyakarta.
Tulisan ini
dikemukakan kembali mengingat pada tanggal 10 Maret 2016, Universitas ‘Aisyiah
(Unisa) Yogyakarta telah diresmikan. Tentu saja ini merupakan salah-satu
perkembangan baik bagi organisasi sosial berbasis keagamaan di Indonesia. Universitas
Islam swasta pertama di Indonesia yang ditujukan bagi perempuan. Dalam mengapresiasi
kemajuan inilah tulisan Abdul Kahar Muzakir kami ketengahkan.
Pertama, adalah suatu kewajiban suci bahwa kita umat Islam yang
merupakan bangsa Indonesia yang besar ini, oleh Allah Swt dikaruniai iman dan
Islam dan dijadikan wasath dan khoiru ukhrijat linnas, yang mana agama
dan idiologi Islam sudah sejak empatbelas abad lalu memberikan pedoman-pedoman
hidup yang mulia dan bermutu tinggi. Islam yang semenjak lahirnya, memberi
tugas wajib belajar yang sama baik bagi pria maupun bagi wanita.
Ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah mengenai kewajiban
belajar senantiasa berlaku dari dahulu hingga kini, bahkan sepanjang masa.
Ilmu dan pengetahuan selama-lamanya menjadi sendi dan dasar
tiap-tiap tindak terutama untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Umat Islam terutama
untuk kemajuan masyarakat dan negara di mana kaum Muslimin pun semenjak
lahirnya selalu membuktikan dengan bukti-bukti yang berharga.
Kedua, di tanah air Nusantara Indonesia, umat Islam terutama yang
bernaung di bawah panji gerakan kita, Muhammadiyah dengan bukti yang nyata baik
sebelum maupun sesudah Indonesia Merdeka, mengambil bagian dalam pengajaran dan
pendidikan pula. ‘Aisyiyah sebagai garwa Muhammadiyah, tidak ketinggalan dalam
memajukan bidang pengajaran dan pendidikan pula. Usaha-usaha ‘Aisyiyah dalam
bidang tersebut terbukti tidak demikian ketinggalan.
Ketiga, selain ajaran al-Qur’an dan sunnah, ajaran-ajaran asuhan guru
mursyid kita, KH. Ahmad Dahlan Rohimahu Allah, di Indonesia sungguh sangat
berguna dan layak menjadi teladan. Beliau sejak pagi-pagi telah memberi
pengajaran dan pendidikan kepada kita bukan saja dalam bidang agama akan tetapi
dalam bidang usaha-usaha kemajuan duniawiyah pula.
Keempat, Madrasah Mu’alimat adalah hingga kini merupakan suatu
perguruan kita yang masih dapat kita pertanggungjawabkan dalam tujuan menghasilkan pendidikan wanita Islam. Madrasah
Mu’alimat sudah 40 tahun kita dirikan. Banyak benar sudah hasil madrasah yang
tersiar dan berkembang sampai ke Merauke sebagai ibu keluarga yang utama, guru
yang rajin, mubaligh yang patuh, pemimpin yang setia di samping sebagai
pedagang yang bonafid, pengusaha yang
produktif dan sarjana yang terpelajar tinggi, dan di samping sebagai muslimah
yang taat.
Kelima, Indonesia kini telah menjadi suatu negara yang besar. Bangsa Indonesia
pun suka atau tidak, telah harus menjadi bangsa yang besar. Dalam pada itu kaum
muslimin dan muslimat harus pandai menempati kedudukan culturil yang sepadan di arena bangsa lain sesuai pula sebagai khoiro ummat ukhrijat linnas. Ke dalam
(Indonesia) merdeka hendaknya jangan ketinggalan atau terdesak oleh lain-lain
golongan.
Kesemuanya itu menghendaki umat Islam harus pula dapat
menyelenggarakan tenaga ahli dalam bidang-bidang yang diperlukan. Kaum muslimat
terutama kaum ‘Aisyiyah yang sudah memiliki banyak-sedikit
pengalaman-pengalaman dalam alam kemajuan kemasyarakatan dirasakan perlu
menyelenggarakan perguruan untuk ahli wanita yang tetap gigih memegang teguh
ajaran-ajaran Islam.
Keenam, tenaga ahli dari wanita Islam dan juga sekarang diperlukan
guru-guru menengah, dosen, dokter, dokter gigi, apoteker wanita, sarjana hukum,
pengacara, ahli-ahli seni yang tak keluar dari ajaran Islam, ahli sastra, pegawai
negeri atau swasta, ahli sejarah, ahli ilmu bumi, ahli ekonomi, dan dagang dan
isteri diplomat dan lain-lain.
Untuk memenuhi calon-calon di atas, Madrasah Mu’alimat yang
secara praktek dan kenyataan sudah dapat menyumbangkan tidak sedikit tenaga-tenaga
dalam masyarakat kita, baiklah kita pelihara dan kita atur kembali dengan
tujuan-tujuan baru dan rencana pelajarannya, dengan tidak meninggalkan adab dan
kesusilaan Islam, baik dalam akhlak maupun pakaian yang sesuai dengan
syarat-syarat pakaian Islam.
(@FauAnwar)
(@FauAnwar)
